Dari Sipinsur ke Meja Makan: Food Estate dan Kopi Angkat Humbang Hasundutan
DOLOKSANGGUL — Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) sedang memanen dua hal sekaligus: panorama dan produksi. Geosite Sipinsur Bakti Raja — titik pandang terbaik Danau Toba dari sisi barat — makin tertata, sementara kawasan food estate dan kebun kopi rakyat menguatkan ekonomi petani.
Dari Sipinsur, pengunjung melihat hamparan danau dengan Pulau Samosir di kejauhan, berlatar ladang bawang, kentang, dan kopi yang menjadi nadi ekonomi Humbahas. Kombinasi inilah yang membuat kabupaten ini unik: wisata dan pertanian saling menguatkan.
Petani muda kembali ke ladang
Program food estate yang sempat menuai kritik kini diperbaiki dengan pendekatan kemitraan: petani plasma dilibatkan sejak perencanaan tanam, harga dasar disepakati di depan, dan alsintan disewa kolektif lewat koperasi. Sejumlah sarjana pertanian asal Doloksanggul, Lintongnihuta, dan Pollung memilih pulang dan menjadi petani modern.
Kopi Humbang — khususnya lintong — menembus pasar specialty dengan harga yang jauh lebih baik. Pelatihan pascapanen (petik merah, fermentasi, sangrai) yang digelar bersama koperasi membuat nilai tambah tinggal di desa, bukan di tengkulak.
“Dulu kopi kami dijual gabah basah murah. Sekarang kami sangrai sendiri, kemas sendiri, jual ke Medan dan Jakarta. Anak saya kuliah dari hasil kopi,” kata seorang petani di Lintongnihuta.
Wisata yang menjual hasil tani
Penataan Sipinsur dilengkapi gerai produk tani: kopi, andaliman, madu, dan keripik. Wisatawan tidak hanya berfoto, tapi belanja — dan setiap rupiahnya langsung ke petani. Inilah model agrowisata kaldera yang patut direplikasi: panorama memanggil, produk tani yang menahan.